Maaf Temans..dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila, terpaksa aku membagikan kebingunganku padamu. Karena sampai detik ini setelah belajar sejarah bertahun-tahun yang lalu, logikaku tetap tak bisa menerima bahwa Pancasila itu sakti.
Bukan Temans..bukannya aku anti Pancasila, atau aku termasuk golongan orang yang tidak cinta tanah tanah air atau ‘penghianat’.Aku sangat..sangat mencintai tanah airku ini, bahkan hujan batu pun akan aku jalani di negeri tercinta ini, tapi biarlah aku mempunyai keyakinan sendiri akan kebingunganku mengenai kesaktian Pancasila ini.
Maaf Temans..sampai detik ini aku berkeyakinan Pancasila itu tidaklah sakti, sama dengan tidak saktinya batu Ponari. Logikaku masih belum menerima bahwa bersatunya, maju mundurnya, jayanya, jatuh bangunnya Indonesia –menurut pendahulu kita- adalah karena saktinya Pancasila. Logikaku berkata bahwa Pancasila adalah ‘kata-kata’, Pancasila tidaklah sakti karena yang pada dasarnya ia hanyalah kata-kata adalah seperti juga halnya barang-barang seperti mobil, sepeda motor, buku, atau pisau yang semu tergantung cara kita memakai barang-barang tersebut, apakah untuk hal yang positif atau negatif, bisa benar atau salah.
Aku bukan termasuk orang yang meyakini bahwa Pancasila adalah ideologi bangsa kita, tapi maaf sekali lagi Temans..bukan berarti aku tidak mencintai Pancasila dan tidak mengamalkan Pancasila. Dengan ideologiku –yang bukan Pancasila- ini aku malahanmerasa telah mengamalkan semua sila Pancasila walaupun aku tidak meyakininya..tidak berusaha memahami filsafatnya, menafsirkan dan menganalisisnya,..lho?
Mengapa demikian Temans?ijinkan aku menjelaskan..sebagai seorang muslim aku percaya bahwa Tuhanku adalah Allah SWT dan utusannya adalah Muhammad saw yang merisalahkan Al-Quran dan Sunnah Rasul sebagai pedoman hidup kita, sebagai sumber dari segala sumber hukum. Ketaatanku pada Tuhan berarti sesuai dengan sila pertama dari Pancasila karena dalam sila pertama disebutkan Ketuhanan yang Maha Esa, agar kita taat menjalankan ajaran agama kita.
Ketaatanku pada Tuhan juga berarti menjalankan semua amanahnya sebagai wakil Allah di muka bumi sebagai khalifah menjadikanku melaksanakan 4 sila yang lain dari Pancasila.Menjadi makhluk individu dan sosial yang menghormati perbedaan, menjadi kesatuan dengan memiliki kepribadian sendiri, menjadi unsur mutlak negara yang harus bekerjasama dan bergotong-royong, dan menjadi manusia yang adil dengan memberikan keadilan kepada diri sendiri dan orang lain yang menjadi haknya
Jadi Temans..jangan jauhi diriku walaupun aku tidak mengakui Kesaktian Pancasila, jangan menganggap diriku tidak mencintai tanah air hanya karena ideologiku bukan Pancasila, karena aku merasa aku sudah menjalankan nilai-nilai yang tertulis dalam sila-silanya…
Jangan tanyakan padaku bagaimana memaknai Pancasila..mungkin akan lebih baik kita tanyakan pada penyair KH Mustofa Bisri dalam pusi beliau mengenai Pancasila :
………
Maka pancasila kalian pun selama ini adalah:
Kesetanan yang maha perkasa
Kebinatangan yang degil dan biadab
Perseteruan Indonesian
Kekuasaan yang dipimpin oleh nikmat kepentingan dalam perkerabatan/perkawanan
Kelaliman sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
(dicuplik dari puisi “Kembalikan Makna Pancasila” tahun 1997)
No comments:
Post a Comment