10 December 2009

Ranking berapa Nak?

Saat ini memang musim pembagian rapor anak sekolah, mulai minggu kemarin para orang tua khususnya ibu-ibu (kenapa ya ibu yang paling repot?) bergantian ke sekolah anak-anaknya untuk mengambil rapor. Bagi sebagian orang tua moment ini merupakan  moment yang penting untuk melihat keberhasilan anak-anaknya memahami, mengetahui, dan mengevaluasi sejauh mana perkembangan dan kemajuan intelektualitas anaknya selama 6 bulan, tapi mungkin bagi sebagian yang lain, hanya sebatas melihat laporan anaknya.

Bagi saya, pembagian rapor hanyalah sebuah moment pembagian nilai-nilai saja, kenapa karena pada dasarnya saya lebih menilai pada proses pembelajarannya dibanding hasil yang akan didapat anak-anak kita nanti. Untuk mengentahui dan mengevaluasi perkembangan pendidikan anak-anak, saya tak perlu menunggu sampai 6 bulan sesudahnya kan?setiap hari kalau mau saya bisa berdiskusi dengan wali kelas atau guru.

Tapi saya tidak akan membahas masalah ‘moment’ pembagian rapornya. Saya hanya teringat ketika suatu hari agak tersentak dan sedih sebenarnya dengan akibat dari pembagian rapor dan sistem yang banyak dilaksanakan di sekolah-sekolah. Khususnya sistem ranking yang diterapkan sebagian besar sekolah di Indonesia.
Saat itu, saya sedang berada di angkutan umum menuju tempat kerja, dan di depan—sebelah supir—ada seorang ibu dan anak perempuannya berumur sekitar 9-10 tahun masih dengan baju merah putihnya sepertinya baru saja pulang dari sekolah menerima rapor. Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik mendengar percakapannya, tetapi ada hal yang membuat saya perlu untuk menyimak hal yang diperbincangkan.
Si Ibu memulai percakapan dengan membahas nilai raport putrinya, dari sini diketahui putrinya masuk ranking 10 besar, sebatas ini masih wajar. Tetapi percakapan mulai tidak menyenangkan saya dan membuat saya tersentak ketika si ibu mulai menanyakan ranking teman-teman putrinya.
Ibu    : "Putri, kalau Slamet masuk ranking berapa?"
Putri  : "Ga tau bu, tapi dia 10 besar juga ga masuk".
Ibu    : "Kalau Nita masih ranking 4 ?"
Putri  : "Nita sekarang ga masuk ranking bu".
Ibu    : Tuh kan, dia memang anak bodoh, makanya kamu sudah bagus nih masuk ranking, jangan seperti Slamet..10 besar saja ga masuk..mau jadi apa kamu kalau sudah besar kalau nilaimu jelek..Nita juga malas belajar kali, tahun depan nilai kamu juga harus lebih baik dari sekarang, biar rankingmu naik lagi jangan seperti sekarang!

Entah kenapa, selesai si ibu berkata seperti itu, rasanya muka ini langsung memerah dan ingin rasanya menonjok muka si ibu (untungnya kendali emosi baik hehe..). Rasanya sakit hati ini, apalagi melihat putri si ibu hanya menunduk dan mengangguk-angguk. Duh Gusti Allah kasihan sekali dirimu Putri, sekecil itu sudah menanggung beban berat atas keinginan orang tuanya.

Ada dua hal penting yang saya catat dari percakapan itu pertama si ibu sangat menekankan pentingnya ranking dalam pendidikan anaknya; bagi si ibu ranking adalah segala-galanya, bila tidak masuk ranking bisa merupakan aib dan kesalahan yang besar bagi putrinya dan yang pasti membuat malu dan tidak prestise, kedua si ibu telah menanamkan rasa kebencian pada teman putrinya dengan menjudge si Slamet bodoh dan Nita malas. Ini sangat berbahaya bagi perkembangan putrinya.

Saya jadi berpikir, paradigma yang menganggap yang pintar adalah anak yang masuk sekolah negeri, atau anak yang pintar adalah yang pintar matematika, IPA, anak yang pintar adalah anak yang selalu masuk ranking sepertinya harus diubah, dan sekarang sepertinya mulai bergeser (alhamdulillah amin).
Apakah ranking segala-galanya bagi kita sebagai orang tua? Padahal Allah menciptakan berbagai macam kecerdasan dalam setiap manusia. Tidak ada seorangpun yang cerdas dalam semua bidang, pada umumnya manusia mempunyai kekuatan dalam satu atau dua macam kecerdasan saja. Dr. Robert T Kiyosaki dalam Rich Dad Poor Dad For Teens dan Dr. Howard Gardner dalam Multiple Intelligence mengatakan ada 10 kecerdasan (1) kecerdasan Verbal Linguistik, (2) Kecerdasan Numerik, (3) Kecerdasan Ruang/Visual, (4) Kecerdasan Musikal, (5) Kecerdasan Fisik, (6) Kecerdasan Interpersonal, (7) Kecerdasan Intrapersonal, (8) Kecerdasan Natural, (9) Kecerdasan Intuitif/Visi, dan (10) Kecerdasan Finansial.

So..seberapa pentingnya sih ranking kelas itu?padahal setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda. Saya bersyukur anak saya sekolah di sekolah yang tidak menggunakan sistem ranking (terlepas dari berbagai macam kekurangan terutama manajemen di sana—maaf), sehingga dia bisa belajar dan bermain dengan gembira tanpa ada beban harus masuk ranking atau harus mendapatkan nilai yang bagus. Saya yakin setiap anak cerdas dengan kecerdasaran yang berbeda-beda.
Mungkin ada yang berpendapat bahwa sistem ranking juga bermanfaat untuk meningkatkan kompetisi di sekolah, sehingga memacu anak untuk belajar yang giat dan rajin dan mendapat penghargaan sesuai dengan rankingnya. Tetapi menurut saya kompetisi akan menjadi positif jika semua orang tua tidak memaksakan kehendak pada putra-putrinya apalagi bila tidak dibarengi pesan moral, bisa-bisa putra putri kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai yang bagus, mencontek misalnya.

Saya jadi miris dan sedih kalau membayangkan --mungkin--sebagian besar orang tua yang masih menganut paradigma lama bahwa putra putrinya harus meraih angka-angka yang tinggi dan masuk ranking di kelasnya (padahal urutan ke-30 juga termasuk ranking kan?hehe) dengan mengorbankan kebahagian dan kesenangan putra putrinya kan masa kecil. Biarkanlah putra putri kita berkembang sesuai dengan kemampuannya tanpa harus tertekan dan depresi hanya karena keinginan orang tuanya. Saya ingat apa yang Kak Seto katakan bahwa pertanyaan yang betul itu : "Apakah kalian senang  dan bahagia bersekolah di sana?". Beliau menekankan kata 'senang dan bahagia', karena masa kecil adalah masa yang harusnya bisa dikenang indah oleh putra putri kita, bukan masa-masa yang keras karena tekanan para orang tua yang egois merampas kebahagiaan anaknya.

Jadi menurut saya, ranking ngga penting-penting banget deh….Tapi memang orang tua yang baik perlu menanamkan beberapa hal seperti y ang pernah dikatakan pada ceramahnya Ustadz Didin Hafidudin yaitu kita sebagai orang tua harus menanamkan: (1) kecerdasan Intelektual yang berasal dari akal yang baik, ilmu pengetahuan yang bermanfaat, dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang positif dan mana yang negative. (2). kecerdasan Spritual;  orang tua berperan dalam menjadikan anak-anaknya generasi yang bisa baca AlQuran. Ini sangat penting dalam memberantas buta huruf AlQuran. Anak-anak yang cerdas dalam intelektual, namun lemah dalam kecerdasan spiritual, akan menimbulkan penurunan akhlak dan moral yang baik dan terpuji, (3) Kecerdasan Sosial; kecerdasan ini sangat perlu dilatih dan dididik agar anak tumbuh menjadi manusia yang peka terhadap lingkungannya. Punya simpati dan empati pada masyarakat yang ada dalam lingkungannya.  Betapa banyak diantara kita yang punya jabatan tinggi, IQ yang tinggi, namun semua itu untuk kepentingan diri kita sendiri, atau keluarga kita, (4) kecerdasan emosional; orang yang sukses adalah mereka yang banyak mempunyai masalah-masalah yang berat, dan dapat diselesaikannya dengan baik. Tidak lari dari masalah, tapi dihadapi, dan bukan menambah permasalahan lainnya. Orang yang mempunyai kecerdasan emosional, maka ia akan dapat mengendalikan tantangan itu. Ia tidak mudah frustasi atau putus asa.

Jadi biarkanlah putra putri kita berkembang dan belajar dengan bahagia sembari tak lupa kita sebagai orang tua menanamkan nilai-nilai positif yang kelak akan menumbuhkan dalam jiwanya benih-benih yang baik dan kita sebagai orang tua tinggal mengoptimalkan kemampuan putra putri kita sesuai dengan kecerdasan dominan yang dimilikinya, selanjutnya serahkan pada yang mempunyai dan menitipkan putra putri kita yaitu Allah, karena hanya Dia-lah yang paling mengetahui akan jadi apa kelak putra putri kita.
Saya setuju dengan yang dikatakan mbak Neno Warisman bahwa Anak yang pintar adalah anak yang santun dan peminta maaf, memiliki kecerdasan emosional yang kelak pasti jadi jadi anak berguna, dia mendapatkan ranking satu bukan karena angka tetapi karena karena taat pada Allah.

Nah, menurut anda..seberapa pentingkah ranking kelas putra putri kita?

No comments:

Post a Comment